MENYINGKAP KEUNIKAN SUKU SAKAI: MAHASISWA TADRIS IPS MENJELAJAHI KEHIDUPAN BUDAYA DAN TRADISI DESA KESUMBO AMPAI, RIAU

Program Studi Tadris IPS di UIN Sultan Syarif Kaim Riau mengadakan kegiatan praktik lapangan yang mengarahkan mahasiswa ke Suku Sakai di Desa Kesumbo Ampai, Kecamatan Batin Solapan, Kabupaten Bengkalis, Riau. Kegiatan ini diikuti oleh 68 mahasiswa semester 6 dan didampingi oleh 4 dosen yang terdiri dari Dr. Sukma Erni, MPd., Emilia Susanti, M.Pd., Ardhi Yulis, M.Pd., dan Yanuari Cristi, M.Pd. Dr. Sukma Erni M, Pd selaku dosen pembimbing praktik lapangan menjelaskan bahwa tujuan dari kegiatan ini adalah agar mahasiswa dapat lebih memahami kehidupan masyarakat, budaya sosial, seni, dan kebiasaan sehari-hari yang dilakukan oleh masyarakat Suku Sakai. “Kami berharap melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat memperoleh pengalaman yang berharga terkait tradisi dan kehidupan Suku Sakai,” ungkapnya.

Kedatangan rombongan mahasiswa Tadris IPS disambut dengan hangat oleh Bapak Rasyid, seorang Tungkek atau Pembantu Batin di Desa Kesumbo Ampai. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan rasa terima kasih yang besar dan sangat gembira dengan kedatangan rombongan mahasiswa Tadris IPS untuk praktik lapangan. Beliau juga menyampaikan salam dan permohonan maaf karena saat kedatangan rombongan, kepala batin suku Sakai tidak berada di tempat. Menurut tokoh Sakai dan juga aparat desa di Suku Sakai, Desa Kesumbo Ampai merupakan daerah dengan jumlah suku Sakai terbanyak. Rumah adat berbentuk rumah panggung menjadi kekayaan budaya bagi suku Sakai. Tempat ini berfungsi sebagai museum yang menyimpan beragam peralatan dan peninggalan suku Sakai, seperti foto-foto kehidupan masyarakat suku Sakai di masa lampau, alat musik tradisional, peta tanah adat, dan bahkan keris kuno.

Selain mempelajari dan mengamati rumah adat beserta isinya, dalam kegiatan praktik lapangan ini mahasiswa juga diajak untuk berkeliling dan berbincang langsung dengan masyarakat asli suku Sakai di Desa Kesumbo Ampai. Banyak hal unik yang ditemui dan didiskusikan secara langsung dengan masyarakat suku asli tersebut.

Atuk Guntur, seorang tokoh tua Sakai berusia sekitar 73 tahun, memperlihatkan kepada mahasiswa Baju Kulit Kayu Suku Sakai yang terbuat dari kayu “Pudu”. Menurut Atuk Guntur, kayu ini sangat sulit ditemukan. Pembuatan baju tersebut juga tidak mudah karena kayu tersebut mengandung getah yang dapat merusak kulit sehingga harus direndam selama 3 hari sebelum dapat diolah. Selain itu, makanan khas suku Sakai bernama “Mengalo mesik” juga menarik perhatian. Makanan ini dibuat dari ubi racun yang disebut “ubi gajah”. Proses pembuatannya membutuhkan waktu lebih dari seminggu, seperti yang diungkapkan oleh nenek Sakai yang berusia sekitar 80 tahun. Ubi harus direndam dalam air mengalir selama beberapa hari sebelum dapat diolah menjadi bahan pangan yang tahan bertahan berbulan-bulan. “Mengalo merupakan makanan pokok kami di masa lalu, namun seiring berjalannya waktu, ubi racun sudah sulit ditemukan dan mulai digantikan dengan beras. Meskipun begitu, rasanya tetap enak,” ucap Rubiah, seorang warga suku Sakai di Desa Kesumbo Ampai.

Rudi Kurniawan, salah satu mahasiswa Tadris IPS yang juga menjabat sebagai pimpinan Himpunan Mahasiswa Program Studi periode tahun 2022-2023, mengungkapkan kebermaknaan kegiatan praktik lapangan ini. Ia menyatakan, “Kegiatan praktik lapangan ini sangat bermanfaat bagi kami sebagai mahasiswa. Selain dapat menambah pengalaman, kami juga mendapatkan pengetahuan yang luas mengenai adat istiadat suku asli Riau ini. Selain itu, kegiatan ini juga membantu mempererat hubungan antar mahasiswa. Semoga kegiatan praktik lapangan seperti ini untuk mengenal suku dan budaya Riau selalu ada agar wawasan kami semakin bertambah.”

About admin-tadrisips

Check Also

Prodi Tadris IPS Menuju Budaya Mutu Melalui Kegiatan Rapat Tinjauan Manajemen Penyampaian Hasil Audit Mutu Internal

Pada hari selasa, 1 Februari 2023 Pimpinan Prodi Tadris IPS dan Pimpinan prodi selingkungan FTK …