Pekanbaru — Kegiatan Simposium Sejarah dan Warisan Islam Malaysia–Riau sukses diselenggarakan sebagai ruang akademik untuk memperkuat kajian sejarah dan kebudayaan Islam serumpun. Simposium ini merupakan hasil kolaborasi antara UIN Sultan Syarif Kasim Riau dan Universiti Kebangsaan Malaysia.
Simposium tersebut diikuti oleh kurang lebih 20 mahasiswa dari kedua perguruan tinggi yang berpartisipasi aktif sebagai pemakalah. Para peserta mempresentasikan beragam topik yang berkaitan dengan sejarah serta warisan Islam di kawasan Malaysia dan Riau, yang memiliki ikatan sejarah, budaya, dan keislaman yang kuat.
Mahasiswa Program Studi Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) turut ambil bagian dalam kegiatan ini. Dua mahasiswa Tadris IPS, yakni Anggun Cahaya (semester 3) dan Mega Puspita (semester 6), tampil sebagai presenter yang mengangkat tema kearifan lokal berbasis tradisi masyarakat Melayu Riau. Anggun Cahaya mempresentasikan kajian berjudul Tradisi Bayar Nazar di Kampar Kiri, yang membahas praktik keagamaan masyarakat sebagai bentuk ekspresi religius sekaligus warisan budaya Islam yang masih lestari hingga saat ini. Sementara itu, Mega Puspita mengangkat topik Tradisi Pacu Jalur di Kuantan Singingi, dengan menekankan nilai-nilai sosial, religius, dan historis yang terkandung dalam tradisi tersebut sebagai identitas budaya masyarakat setempat.
Melalui simposium ini, mahasiswa diharapkan mampu memperluas wawasan akademik, meningkatkan kemampuan presentasi ilmiah, serta memperkuat perspektif komparatif terhadap sejarah dan warisan Islam di wilayah Malaysia–Riau. Kegiatan ini juga menjadi langkah strategis dalam mempererat kerja sama akademik lintas negara antara UIN Sultan Syarif Kasim Riau dan Universiti Kebangsaan Malaysia.

